Surat tinta merah

dulu sekali, saya masih duduk di kelas 2 smp ada kejadian yang masih saya ingat sampai sekarang.
saat itu waktu Liburan tiba, dari sekolah saya diadakan program untuk study tour. semacam wisata yang diikuti oleh para siswa. tujuannya ke Jakarta Bogor dan Bandung.

Semua teman saya antusias menyambut study tour ini, namun tidak bagi Astuti. dia kelihatan muram, seperti tidak punya semangat. selalu menunduk dan mendadak menjadi pendiam. padahal biasanya, dia adalah sosok ceria yang selalu mengumbar senyum ke semua orang, ramah dan suka ngobrol. setelah diusut, ternyata dia sedih tidak bisa ikut study tour seperti teman lain. dan alasannya: sakit asma. sehingga tidak mendapat ijin dari kedua orang tuanya.

memang sebelum keberangkatan ada beberapa siswa yang tidak bisa ikut, karena tidak ada biaya. namun bisa diatasi dengan sistem gotong royong, teman lain yang sekiranya lebih mampu dengan ikhlas membayarkan lebih dahulu uang untuk study tour, dengan catatan pengembalian bisa diangsur. dan itu semua dilakukan agar semua siswa di kelas saya bisa ikut semua. terjalin kekompakan di kelas.

sementara Astuti beda kasus, dia tidak mendapat restu dari orang tuanya untuk ikut di study tour dikarenakan sakit asma yang diderita, bukan masalah lain. untuk itu, berangkat dari inisiatif beberapa teman, kami menulis surat untuk orang tua Astuti yang intinya meminta persetujuan untuk ikut study tour dan berjanji akan menjaga Astuti selama disana. surat itu ditanda tangani oleh 40 orang teman sekelas. Tangis haru Astuti pecah. tak menyangka teman-teman sekelasnya begitu baik.

Keesokan harinya kami tidak sabar menunggu jawaban dari Astuti mengenai kepastian dia mengikuti study tour atau tidak. semua berharap Astuti bisa ikut, bersenang-senang bersama. setiap kali ada teman yang bertanya, Astuti menjawab “nanti aja, aku ngomong didepan” dengan senyum sekedarnya. Jam pelajaran kosong, Astuti kedepan. semua hening, dia mulai angkat bicara.

“Teman-teman, maaf aku gak bisa ikut sama kalian. Ayah tetap gak ngasih ijin aku buat study tour. Bahkan beliau marah, karena surat yang kalian tulis itu bertinta merah.”

Saya masih ingat, memang tulisan nama di amplop putih teruntuk Ayah Astuti ditulis dengan tinta merah. dan itu ternyata fatal. sungguh ini suatu ketidak sengajaan yang membekas. Agar tidak menulis surat dengan tinta merah. dan bisa jadi pelajaran untuk kita semua.

“Ayah berfikir kalian menantang beliau karena tinta merah itu, padahal aku yakin maksud kalian bukan begitu. kalian hanya ingin aku ikut bersama-sama di study tour. tidak lebih. keputusan Ayah sudah bulat. dan aku bisa menerima, toh ini demi kebaikan kita semua. maaf ya teman-teman”

null

Astuti mundur ke bangkunya dengan gontai, kami sadar kalau bertanya lebih banyak akan membuat Astuti semakin sedih. beberapa teman dekat merangkul pundak Astuti memcoba menghibur dan menjanjikan oleh-oleh yang banyak akan dibawakan nanti sepulang dari Study tour.

Share this