Pendakian Gunung Prau 2565 mdpl

Pendakian Gunung Prau 2565 mdpl

saya bersama 5 orang teman. masasdani, bandar, munir, Aris, dan septa pada tanggal hari jumat (28/9/2013) lalu melakukan trip 3 hari ke dieng – wonosobo untuk membuktikan keindahan golden sunrise dari kawasan Gunung Prau yang banyak dibicarakan orang. berangkat dari kendal jam 10 pagi untuk menuju kontrakan masasdani di sampangan semarang. disana sudah ada aris yang dan masas sedang packing perlengkapan yang akan dibawa ke puncak. tak lama munir datang bergabung, setelah persiapan cukup kita berangkat menuju rumah bandar untuk sekalian sholat jumat disana. sebelum menjemput septa di Banyumanik kita berlima makan siang dulu untuk mengisi tenaga.

Di Banyumanik, kita kembali melengkapi peralatan dan bekal yang akan dibawa, motor juga dititipkan di rumah seorang teman yang kuliah di Undip, setelah semua siap kita menuju pangkalan bis sukun banyumanik untuk mencari transport ke Wonosobo. Setelah berunding kita memutuskan untuk naik Shuttle agar perjalanan lebih nyaman dan cepat sampai. Shuttle Nusantara jurusan Purwokerto dengan harga 50.000 per orang. kita berangkat jam 5 sore.

keberangkatan

Perjalanan Semarang Wonosobo ditempuh selama kurang lebih 3jam. Di dalam shuttle kita banyak berdiskusi dengan 2 orang gadis asli wonosobo yang baru menyelesaikan study kuliah di semarang. alhasil, kita mendapat nomor taksi yang bisa di booking untuk mengantarkan ke dieng dari wonosobo dari dia. sebelum sampai semua penumpang turun untuk istirahat makan malam dan sholat di daerah sekitar Parakan. sampai Wonosobo sekitar jam 20:30 kita istirahat. beberapa kali ada orang yang menawarkan jasa untuk mengantar ke Dieng menggunakan motor, namun karena jumlah orangnya banyak dan harga kurang terjangkau. maka taksi menjadi pilihan. menurut informasi transport umum minibus yang menuju dieng cuma sampai jam 5 sore. telpon taksi, 15 menit taksi datang langsung meluncur menuju Dieng perjalanan dari Wonosobo ke Dieng memakan waktu 1 jam.

Malam itu kita akan mendirikan tenda di Bukit Sikunir. tempat ini terletak di desa Sembungan. yang terkenal sebagai Desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 2300 mdpl dan juga jawara silatnya Joko Sembung. taksi mengantarkan kami sampai di parkiran telaga cebong. istirahat sebentar dan mengisi air untuk dibawa ke bukit. jam 11 malam kita mulai mendaki ke bukit Sikunir. Jalan yang awalnya landai berubah menjadi terjal dan berpasir saat akan sampai ke puncak yang ternyata sudah banyak rombongan lain yang mendirikan tenda disana.

Pendakian Gunung Prau 2565 mdpl melalui Bukit Sikunir

Mencari spot yang bagus untuk mendirikan tenda tidak mudah di bukit sikunir ini, kondisi tanah yang tidak rata menjadi penghambat utama. juga angin yang begitu kencang menerpa sukses membuat badan mulai menggigil kedinginan. setelah tenda berdiri api unggun dinyalakan, sekedar untuk menghangatkan badan. berbagai cemilan perlahan mulai disantap untuk mengisi perut agar tenang tidurnya. malam itu saya nekat tidak pake kaos kaki, kaos tangan, dan sleeping bag. hal itu sukses membuat saya bergetar menahan dingin sepanjang malam.

Paginya, Sabtu (29/9/2013) jam 5:30 kita keluar untuk melihat golden sunrise bukit sikunir. angin yang berhembus tetap kencang seperti malam hari, beranjak pagi mulai ramai pendaki lain lengkap dengan gadget dan kamera masing-masing untuk mengabadikan keindahan alam yang luar biasa di sana. cukup berfoto ria, kita packing tenda dan sarapan jelly untuk turun ke telaga cebong jam 9 pagi. jalur berbeda dipilih untuk turun, jalanan lebih terjal lengkap dengan pasir mewajibkan para pendaki lebih berhati-hati saat turun dari bukit sikunir.

Gunung Prau

Sampai di awal pendakian bukit sikunir di parkir telaga cebong kita istirahat dan ngemil gorengan di salah satu warung yang ada, sambil tanya2 transport dari sikunir ke titik awal pendakian gunung prau. mobil bak terbuka l300 mengantarkan kami ke titik awal pendakian lewat jalur SMP 2 Kejajar. karena menurut warga jalur ini yang paling enak dilalui untuk mendaki.

Jam 12:30 Minggu (30/9/2013) siang kami mulai naik, sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan oleh hijau area persawahan yang luas. bukit-bukit lucu, dan areal pemukiman yang terlihat di kejauhan. beberapa kali rombongan kami berpapasan dengan warga sekitar dan pendaki yang turun dari puncak. saat naik kita dihimbau untuk hati-hati karena saat itu ada kebakaran di areal hutan batang, titik api mulai meluas. tapi hal itu tidak menyurutkan niat kita sampai di puncak. dan ternyata menurut info 2 orang pendaki pecinta alam dari yogya puncak gunung prau yang sebenarnya adalah puncak yang banyak terdapat tower milik pemerintah. selama ini yang banyak dijadikan tempat camp yaitu bukit teletubies dan puncak petak banteng.

Setelah melewati puncak prau, kita kembali berjalan ke arah savana perbukitan puncak petak banteng. banyak jalan turunan dan landai, sampai di bukit kita menemukan spot yang cocok untuk mendirikan tenda dibawah pohon-pohon besar agar terhindar dari angin dan kemungkinan hujan. benar saja, tak lama setelah tenda berdiri hujan dengan derasnya menumpahkan seluruh air ke tenda kami. kayu-kayu api unggun gagal dinyalakan kita memutuskan untuk langsung masuk ke tenda dan masak makan malam di dalam menggunakan kompor portable yang menggunakan gas. menu makannya tempe goreng dan bubur ayam instan. terasa sangat spesial menemani malam hujan dingin dan berangin disana. setelah urusan perut beres, semua bersiap istirahat dan tidur untuk menyongsong sunrise minggu pagi. malam itu saya tidur lebih nyenyak daripada malam sebelumnya di sikunir, persiapan lebih matang dengan memakai peralatan perang lengkap agar tidak dingin.

Bangun tidur jam 5, semua personil bersiap mencari spot terbaik untuk melihat sunrise. berjalan 30 menit ke posisi yang paling oke di bukit yang ternyata lagi-lagi sangat ramai oleh pendaki. jepret sana sini mencari angle untuk mendapatkan foto terbaik sampe puas. dan kembali ke tenda untuk sarapan dan packing. untuk pulang, kita akan melalui jalur petak banteng.

gunung prau

Pulang

Di campsite yang lain saat berjalan turun, kita bertemu rombongan dari semarang juga. mereka naik malam hari, dan langsung turun pagi itu juga. Di jalur petak banteng ini jalan yang dilalui lebih terjal dari jalur SMP 2 kejajar yang cenderung banyak jalan landai dan bonus untuk kaki yang tidak kuat ngoyo tanjakan. Sama dengan saat turun dari bukit sikunir pada hari pertama, pasir juga sangat banyak. sehingga pendaki harus menyiapkan masker untuk menutupi hidung dari debu. 3 jam waktu normal ditempuh untuk turun melalui jalur petak banteng. sampai di bawah kita disambut oleh minibus yang akan menuju Wonosobo, tarifnya cukup 10rb per orang. perjalanan 1 jam tidak terasa karena banyak dihabiskan untuk tidur karena capek. sampai kota Wonosobo kita mencari ganjal perut dan istirahat di warung.

Setelah cukup kenyang kita melanjutkan jalan pulang, naik minibus sampai terminal Wonosobo kita menunggu bus jurusan Purwokerto – Semarang di sana. bus datang ternyata masih sepi, ngetem lagi sampai agak penuh lanjut jalan menuju semarang. pengamen silih berganti menemani istirahat kami di bis. sampai pada akhirnya ban bis kiri belakang meletus dan bikin panik semua penumpang, untung pak sopir pro jadi masih bisa dikendalikan. segera ban cadangan dikeluarkan untuk diganti, kabar buruknya kita semua tidak bisa melanjutkan perjalanan ke semarang dengan bis yang sama karena terlalu beresiko dengan ban pengganti kalau diteruskan sampe semarang. akhirnya sampai di secang kita turun dan mencari bis pengganti dari jurusan yogya. sampai di semarang jam 20:30 kita disambut hujan untuk mengakhiri hari dan pengantar tidur. motor juga sempat mogok karena busi basah, maklum motor tua. malam itu saya naik lagi ke gunung pati menginap di tempat masasdani, dan pulang kerumah keesokan harinya. :mrgreen:

Foto-foto lainnya bisa dilihat di album facebook saya disini

Share this