Ini tentang Hari Guru Nasional

umar
Selamat hari guru. tanpa jasa-jasamu aku tak mungkin bisa seperti ini.. v

guru
Google membuat doodle khusus di hari guru ini

Sedikit tentang hari guru.

Hari Guru
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.

Indonesia: 25 November
Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.

Saya membuat postingan ini khusus untuk beliau, pahlawan tanpa tanda jasa. bagi seluruh guru di dunia, tetaplah jadi yang terbaik. mentransfer ilmu pada generasi kehidupan. Apresiasi ini belum seberapa dengan semua yang telah engkau perjuangkan. tapi percayalah, dihati ini aku selalu mengingat masa itu. w

jadi inget beberapa waktu lalu saya membaca sebuah kisah, perjuangan seorang guru. yang ditulis oleh seorang rekan saya di kaskus. s Lurc.

cerita ini adalah tentang seorang guru teman ibu saya di sebuah sekolah dasar di cirebon, sebut saja pak budi (bukan nama sebenarnya). kenapa dibilang unik?karena mungkin keputusan-keputusan dia dalam cerita ini cukup mengundang reaksi yang beragam dari siapapun yg mendengarnya.

cerita ini berawal dari beberapa guru, termasuk ibu saya yang menerima “sertifikasi”. sekedar informasi, “sertifikasi” adalah penghargaan untuk seorang guru, yang telah mengabdi cukup lama. penghargaan ini diterima dalam bentuk tambahan tunjangan, yang besarnya cukup lumayan untuk seorang guru.

nah, setelah melalui tahap panjang ibu saya, pak budi, dan beberapa guru lainnya berhak mendapatkan sertifikasi tersebut. sertifikat tersebut harus diambil di universitas pendidikan Indonesia (UPI) kota bandung. karena cukup banyaknya guru yang mendapatkan sertifikasi tesebut, mereka bersepakat untuk menyewa mobil untuk berangkat bersama sama ke kota bandung, tentu saja dengan akomodasi yang dibayar bersama sama (patungan). namun pak budi memiliki pendapat lain, dia mengatakan sedang tidak mempunyai uang untuk berangkat ke kota bandung tersebut. sekedar tambahan, istri budi hanya membantu berjualan, sehingga mungkin penghasilan utama keluarganya berasal dari dirinya. namun kalau dipikir, biaya patungan tersebut ‘hanya’ seratus ribu rupiah, ibu saya dan teman-teman lainnya pun bersedia meminjamkan uangnya kepada pak budi agar dia bisa ikut bersama mereka mengambil sertifikasi tersebut. namun pak budi tetap pada pendiriannya yang tidak ingin meminjam uang dan menyusahkan orang lain. lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana pak budi akan berangkat ke bandung untuk mengambil sertifikasi tersebut? inilah yang mungkin membuat anda sedikit tercengang, bagaimana dia sampai ke kota bandung dan pulang lagi, hanya berbekal “sepuluh ribu rupiah”.

kalau ibu saya dan teman-temannya bersama-sama naik mobil dari bandung, pak budi memilih naik angkutan umum ke kota bandung. dia menaiki sepedanya sekitar pukul 3 pagi untuk berangkat ke terminal. sebenarnya dia memiliki motor, namun dia takut kehilangan motornya di terminal, jadi dia membawa sepedanya, dan dititipkan di terminal. sesampainya di terminal, dia berlaga seperti pedagang asongan, dengan membawa beberapa minyak rambut untuk dijual. hal itu dilakukannya agar tidak ditagih ongkos menaiki bis ke bandung. entah berapa kali dia turun naik bis selama perjalanan, namun akhirnya dia sampai juga di kota bandung. sesampainya di terminal cicaheum, dia mampir ke sebuah warteg untuk makan siang, dan di tempat itu pula dia berganti pakaian, yang sebelumnya berpakaian ala tukang asongan. untungnya, dari terminal cicaheum ke UPI terdapat sebuah angkot yang langsung menuju tempat tersebut. saat itu hujan sangat lebat, namun tidak menjadi masalah bagi pak budi untuk melanjutkan perjalanannya.

sesampainya di UPI, ibu saya dan guru-guru lainnya sudah cemas menunggu pak budi, karena mereka masih bertanya-tanya bagaimana pak budi akan sampai di bandung? naik apa dia?
dan sesampainya di UPI dan bertemu dengan kawan-kawannya, pak budi pun menceritakan semuanya kepada teman-teman seperjuangannya tersebut. dan tentu saja banyak teman-temannya yang bingung dengan apa yang baru saja dia lakukan. dengan perjalanan yang cukup melelahkan, dan ditambah dengan hujan deras yang melanda kota bandung saat itu, pak budi pun mengalami pusing, dan meminta obat kepada teman-temannya. setelah selesai mengambil sertifikasi, ibu saya dan teman-temannya pun menawarkan agar pak budi ikut bersama mereka naik mobil yang sudah disewa dari cirebon. namun pak budi menolaknya, karena dia tidak ingin merepotkan teman-temannya. dan dia pun kembali ke cirebon, dengan skenario yang sama seperti dia berangkat.

ibu saya yang mendengar cerita ini pun terheran-heran dengan apa yang telah diperbuat pak budi. dengan mempunyai dua anak, pak budi harus memutar otak untuk menyekolahkan kedua anaknya. mungkin dia mampu untuk patungan agar bisa ikut dalam rombongan, atau dia juga bisa meminjam uang. namun dia memilih cara lain dengan uang seminimal mungkin, untuk pulang pergi ke bandung. dia tidak terlalu peduli dengan dirinya, yang penting dia bisa mengambil sertifikasi tersebut, dan pulang lagi ke cirebon. dia juga tidak memikirkan kenyamanan, ataupun gengsi karena berpura-pura menjadi pedagang asongan, agar bisa mengirit ongkos perjalanan. sehari-hari pun dia cukup sederhana, berangkat mengajar menggunakan motor cina yang sudah sedikit bodol. dia lebih memilih untuk membelikan kedua anaknya motor yang lebih layak. mungkin, dengan sertifikasi yang didapatnya, dapat sedikit memudahkan hidupnya yang sudah sederhana, amiiiin.
posting asli

kisah yang menarik untuk kita teladani, beliau begitu berdedikasi tinggi dan teguh untuk mencapai sesuatu. bukankah seharusnya kita seperti itu?
bukan sebaliknya kita justru kufur nikmat dan tidak mensyukuri kehidupan..

Selamat pagi. w

source pic : here

Share this