Bicara Pemilu

“aku malah tak contreng kabeh fotone”

begitulah salah satu komentar seorang teman saat saya bertanya tentang pemilu legislatif yang baru-baru ini dilaksanakan di dalam maupun luar negeri,
untuk memilih para wakil2 rakyat yang akan memperjuangkan nasib2 rakyat melalui kursi dalam dewan perwakilan (cuma alibi? ato janji? liat saja nanti)
begitu kontroversial, peran paku (senjata pamungkas untuk mencoblos) digantikan bolpoin (senjata pamungkas untuk mencontreng)
sampai saat ini pun saya kurang paham maksud dan tujuan kenapa paku digantikan oleh bolpoin. dan dampaknya, kreativitas para pemilih untuk menyampaikan aspirasinya semakin kelewat batas (lihat gambar dibawah)

kreatifkah

partai “tidak sah” menang telak dalam pemilu kali ini. kebanyakan pemilih masih bingung dalam menentukan pilihan, tidak tahu menahu tentang visi dan misi dari para caleg.
mereka menerima dengan senang hati dana kampanye para caleg, tetapi tidak menjanjikan untuk memilih calek tersebut, akibatnya para caleg yang tidak terpilih banyak yang stress, telah mengeluarkan uang banyak tapi tidak balik modal, kasian.

kertas suara yang tidak lazim (dilihat dari panjang dan lebarnya yang sangat “wuahhhh, super”) menyulitkan para pemilih, sekedar untuk membuka, melihat, membaca, mempelajari, mencari, caleg yang jadi pilihannya, bilik suara sangat kecil, tidak menjamin ke rahasiaan pemilih,
tidak sepadan dengan surat suara yang sebesar itu. bahkan, bilik warnet tempat saya posting kali ini lebih besar ketimbang bilik tempat penyontrengan. kertas yang besar, coretan bolpoin yang mini. menyulitkan panitia dalam mencari sebuah coretan yang ada dikertas, bahkan dibutuhkan 4 orang dalam mengamati pekerjaan ini(lihat gambar)

pemilu2

sukses, sedikit konflik, pelanggaran, adalah wajar untuk menuju ke sebuah negara demokrasi yang didalamnya rakyat adalah pemimpin bangsa.

salam bloger!

pic : disini

Share this